kisah.org Pada suatu hari di tahun 1990-an, di Kota Medan, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, dan tiga orang anak.

Anak pertama adalah seorang perempuan, sebut saja namanya **Erika**. Anak kedua adalah seorang laki-laki bernama **Hendra**, sedangkan anak ketiga bernama **Endrew**.

Dari luar, mereka mungkin terlihat seperti keluarga biasa. Namun, kehidupan di dalam rumah mereka jauh dari kata bahagia.

Ayah mereka adalah seorang yang malas bekerja. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk minum-minuman keras dan berjudi. Ketika tidak memiliki uang untuk berjudi, ia sering memaksa ibunya memberikan uang. Jika keinginannya tidak dipenuhi, kekerasan pun terjadi.

Ibu sering menjadi sasaran amarah ayah. Pertengkaran terjadi berkali-kali, bahkan tidak jarang berakhir dengan pukulan dan tendangan.

Ketiga anak mereka tumbuh dengan menyaksikan semua itu.

 

Harapan yang Sempat Muncul

Suatu hari, ayah mendapatkan sejumlah modal. Modal tersebut kemudian digunakan untuk berjualan kue di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Kota Medan.

Ayah mengajak Hendra untuk membantunya berjualan.

Bagi Hendra, hal tersebut merupakan sebuah harapan.

Ia merasa senang karena berpikir bahwa dengan membantu ayah berjualan, ia juga bisa membantu memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya.

Pagi hari Hendra tetap pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah pada siang hari, ia langsung ikut ayah berjualan kue.

Rutinitas itu berlangsung selama bertahun-tahun.

Hendra tidak pernah banyak mengeluh. Baginya, selama bisa membantu keluarga, ia akan melakukannya.

Namun, kehidupan kembali berubah ketika tempat mereka berjualan digusur.

Ayah kembali kehilangan pekerjaan.

Bukannya mencari pekerjaan lain, ayah justru kembali berjudi. Utang semakin menumpuk hingga akhirnya para rentenir datang ke rumah.

Barang-barang yang ada di rumah mulai diambil untuk membayar utang.

Televisi, kulkas, kipas angin dan berbagai barang lainnya diangkut oleh para rentenir.

Ibu histeris dan menangis.

Barang-barang tersebut bukanlah hasil kerja keras ayah. Sebagian besar merupakan hasil jerih payah ibu sendiri.

Sejak saat itu, pertengkaran antara ayah dan ibu semakin sering terjadi. Mereka bertengkar di dalam rumah, bahkan terkadang di luar rumah dan disaksikan oleh orang lain.

Hingga pada suatu hari, setelah terjadi pertengkaran hebat, ayah pergi meninggalkan rumah.

Dan kali ini, ayah tidak kembali.

 

Ibu Berjualan Demi Anak-Anaknya

Setelah ayah pergi, ibu tidak mempunyai banyak pilihan.

Ia harus menghidupi ketiga anaknya.

Akhirnya, ibu membuka warung kecil di depan rumah. Ia menjual permen, kerupuk, mainan anak-anak, dan berbagai barang kecil lainnya.

Hasilnya memang tidak banyak, tetapi setidaknya ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hendra yang melihat kondisi ibunya merasa tidak tega.

Setiap pulang sekolah, ia membantu ibu berjualan. Saat libur sekolah pun ia tetap berada di rumah membantu.

Sementara itu, kakak dan adiknya lebih sering bermain atau belajar bersama teman-teman mereka.

Ibu sebenarnya sering meminta Hendra untuk pergi bermain atau belajar.

Namun Hendra selalu menolak.

Bukan karena ia tidak ingin bermain.

Bukan pula karena ia tidak ingin belajar.

Hendra hanya berpikir satu hal:

**Ia tidak ingin melihat ibunya kelelahan sendirian.**

Ia ingin membantu.

 

Kalimat yang Tidak Pernah Dilupakan

Suatu hari, ayah tiba-tiba kembali ke rumah.

Pertengkaran hebat kembali terjadi antara ayah dan ibu.

Di tengah kondisi rumah yang kacau tersebut, Hendra baru saja pulang sekolah. Ia sebenarnya ingin keluar bermain, tetapi ibu memintanya untuk belajar.

Hendra membantah.

Perdebatan kecil antara ibu dan anak itu akhirnya membuat emosi ibu meledak.

Dalam kemarahannya, ibu mengucapkan sebuah kalimat yang sangat menyakitkan kepada Hendra:

Kenapa tidak dari kecil saja kuracuni sampai mati kamu?

Kalimat itu mungkin terucap karena emosi.

Namun bagi Hendra kecil, kalimat tersebut tertanam sangat dalam di dalam ingatannya.

Ada kalimat-kalimat yang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dilupakan.

 

Hendra Mulai Mencari Uang

Waktu terus berjalan.

Hendra memasuki masa SMA.

Namun, kehidupannya tidak menjadi lebih mudah.

Ia sering dibanding-bandingkan dengan anak-anak lain. Apa pun yang dilakukannya seolah selalu dianggap salah.

Hendra kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan sambil tetap bersekolah.

Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah kedai kopi yang berada di bawah naungan sebuah yayasan sosial.

Hendra bekerja dengan tekun.

Namun ketika ibu mengetahui hal tersebut, ia meminta Hendra berhenti bekerja dan pulang.

Hendra menolak.

Terjadi pertengkaran.

Dalam kondisi emosi, Hendra tidak sengaja memukul ibunya.

Setelah kejadian itu, ibu pergi meninggalkannya.

Hendra kemudian mendapatkan nasihat dari bos yayasan dan beberapa orang tua yang berada di sekitarnya.

Mereka menyadarkan Hendra bahwa apa pun masalahnya, ia tidak boleh menyakiti ibunya.

Hendra akhirnya datang meminta maaf.

Ia menangis dan mengatakan bahwa ia hanya ingin membantu ekonomi keluarga.

Ia tidak ingin ibunya kelelahan.

Pada akhirnya, ibu memaafkannya.

 

Pekerjaan Sebagai Pengantar Koran

 

Tidak lama kemudian, anak dari pemilik yayasan membuka lowongan pekerjaan sebagai pengantar koran.

Ia menawarkan pekerjaan tersebut kepada Hendra.

Hendra menerimanya.

Namun kehidupan Hendra kembali diuji.

Suatu hari, ayah datang ke rumah dan meminta uang kepada ibu untuk berjudi.

Ibu menolak memberikan uang.

Ayah kemudian kembali melakukan kekerasan terhadap ibu. Ia memukul dan menendang ibu dengan keras.

Kakak Hendra, Erika, yang melihat kejadian tersebut berusaha membantu ibunya.

Namun ayah yang sedang emosi justru membanting Erika.

Hendra melihat semuanya.

Emosinya meledak.

Ia mengambil sebuah pisau dan berniat menusuk ayahnya karena ingin membela ibu dan kakaknya.

Ayah yang melihat pisau tersebut berusaha merebutnya dari tangan Hendra.

Karena perbedaan tenaga yang cukup besar, tangan Hendra mengalami luka parah saat berebut pisau tersebut.

Ia juga mengalami cedera pada bagian tulang selangka yang kemudian diketahui mengalami pergeseran.

Namun Hendra tidak terlalu memikirkan rasa sakitnya.

Baginya, yang penting ibu dan kakaknya selamat.

“Tidak Apa-Apa, Kak”

Setelah ayah pergi meninggalkan rumah, malam pun tiba.

Erika melihat tangan Hendra yang terluka.

Ia bertanya,

“Apakah sakit?”

Hendra hanya menjawab,

“Enggak, cuma luka biasa.”

Padahal rasa sakitnya jauh lebih besar dari yang ia katakan.

Hendra tidak ingin kakaknya khawatir.

Ia memilih menyimpan rasa sakit itu sendirian.

kisah hendra yang terlapak tangannya yang terluka selama 3 bulan tidak bisa di gerakkan

 

Pukul Empat Pagi

Sekitar pukul empat pagi, Hendra bangun.

Ia mengambil sepedanya dan mengayuh menuju tempat pengambilan koran di depan rumah pemilik yayasan.

Kebetulan, rumah tersebut juga digunakan sebagai klinik karena anak pemilik yayasan adalah seorang dokter.

Ketika melihat Hendra datang dengan wajah pucat, demam, dan tangan yang dibalut, dokter tersebut langsung memanggilnya.

“Apa yang terjadi dengan tanganmu?”

Hendra akhirnya menceritakan semuanya.

Ia mengatakan bahwa ayah dan ibunya bertengkar. Ia mengambil pisau karena ingin membela ibunya, tetapi ketika ayah berusaha merebut pisau tersebut, tangannya terluka.

Dokter tersebut merasa kasihan.

Hendra kemudian dibantu dan lukanya dibersihkan serta dijahit.

Dokter mengatakan bahwa luka tersebut sangat dekat dengan pembuluh darah penting.

Jika lukanya sedikit lebih dalam, akibatnya bisa jauh lebih serius.

Dokter meminta Hendra pulang dan beristirahat.

“Jangan bekerja hari ini. Luka kamu serius.”

Namun Hendra menolak.

Ia sudah berjanji akan mengantar koran.

Dokter akhirnya berkata,

“Kalau itu memang pilihanmu, silakan. Tapi ingat, kalau tidak kuat, jangan dipaksakan. Nyawa lebih penting. Luka seperti ini tidak akan cepat sembuh. Dan jangan sampai terkena air.”

Hendra mengangguk.

 

Mengantar Koran dengan Satu Tangan

Hendra tetap bekerja.

Dengan satu tangan, ia mengayuh sepeda dan mengantarkan koran.

Setelah selesai mengantar koran, ia pulang, mandi, kemudian pergi ke sekolah.

Sore harinya, setelah pulang sekolah sekitar pukul enam, ia kembali mandi dan pergi bekerja di kedai kopi.

Begitulah kehidupan Hendra.

Sekolah.

Bekerja.

Mengantar koran.

Membantu keluarga.

Dan semuanya dilakukan dalam kondisi tubuh yang sebenarnya sedang sakit.

Sampai Kapan Hidup Kita Seperti Ini?

Tiga hari setelah kejadian tersebut, ayah kembali ke rumah.

Anehnya, ibu dan ayah sudah berdamai.

Hendra yang baru pulang sekolah melihat mereka bersama.

Ia tidak mampu menahan emosinya.

“Kenapa masih bersama orang gila ini?”

Ayah dan ibu hanya diam.

Hendra kemudian menangis.

Dari kecil kehidupan kita seperti ini terus. Sampai kapan?

Kemudian Hendra melihat tangannya sendiri.

“Bahkan Ibu tidak pernah bertanya apakah tanganku sakit. Bagaimana keadaan tanganku?”

Ibu justru membalas,

“Kamu mau cari masalah denganku?”

Hendra terdiam.

Ia kemudian keluar rumah dan duduk sendirian di depan rumah.

Di dalam pikirannya muncul banyak pertanyaan.

Kenapa Ibu tidak pernah memikirkan aku

Kenapa Ibu tetap memilih suaminya yang malas bekerja dan sering menyakiti keluarga

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban.

 

Hujan yang Membuat Segalanya Lebih Buruk

Keesokan harinya, hujan turun sangat deras.

Hendra tetap harus mengantar koran.

Ia teringat pesan dokter bahwa tangannya tidak boleh terkena air.

Hendra kemudian mendapatkan ide.

Ia membungkus tangannya dengan plastik agar tidak terkena air.

Lalu ia berangkat mengantar koran dengan sepedanya.

Hujan terus turun.

Dari sekitar pukul lima pagi hingga pukul sepuluh, Hendra berada di tengah hujan.

Demam yang sebelumnya belum sembuh semakin parah.

Tubuhnya menggigil.

Pada akhirnya, Hendra tumbang.

Hari itu ia tidak sanggup pergi ke sekolah.

Sejak kejadian tersebut, setiap kali tubuhnya kedinginan atau terkena hujan, bagian tangannya sering terasa sangat nyeri.

Rasa sakit tersebut bahkan terasa begitu kuat hingga membuat tubuhnya bergetar.

 

Mimpi yang Terasa Seperti Kenyataan

Hendra juga mengalami hal lain yang sulit ia jelaskan.

Ia sering bermimpi tentang sebuah kejadian.

Anehnya, beberapa kejadian yang muncul dalam mimpi tersebut kemudian benar-benar terjadi.

Namun ketika hendak menceritakannya kepada orang lain, Hendra sering lupa detail waktunya.

Misalnya, dalam mimpi ia mengalami sebuah kejadian pada hari Jumat.

Ketika kejadian tersebut benar-benar terjadi, ternyata bukan hari Jumat. Bisa lebih cepat atau lebih lambat.

Namun kejadian yang dialaminya terasa sangat mirip dengan apa yang pernah ia lihat dalam mimpi.

Hal tersebut membuat Hendra sering berpikir,

“Bukankah kejadian ini sudah pernah aku alami?”

Ia bahkan pernah bertanya kepada orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual.

Namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Ada pula yang mengatakan bahwa Hendra mengalami masalah kejiwaan.

Namun bagi Hendra, pengalaman tersebut terasa nyata.

 

Hendra Memutuskan Berhenti Sekolah

Suatu hari, teman sebangku Hendra mengetahui kondisi yang dialaminya.

Temannya kemudian membawa seorang guru ke rumah Hendra.

Guru tersebut melihat kondisi Hendra dan melihat tangan Hendra yang masih memiliki bekas luka serta perban dengan noda darah.

Hendra kemudian mengatakan bahwa ia sudah memutuskan berhenti sekolah.

Bahkan buku sekolahnya dikembalikan karena biaya sekolahnya belum dibayar sejak awal.

Guru bertanya,

“Kenapa kamu berhenti sekolah?”

Hendra menjawab dengan kalimat sederhana:

“Saya orangnya bodoh. Tidak perlu sekolah. Yang penting saya bisa menulis saja.”

Guru tersebut rupanya mulai memahami masalah yang terjadi dalam kehidupan Hendra.

Setelah berbicara dengan Hendra, guru tersebut akhirnya pergi bersama teman Hendra.

Hari itu menjadi salah satu titik perubahan terbesar dalam hidup Hendra.

Ia memutuskan meninggalkan rumah.

Dan sejak saat itu, Hendra tidak pernah kembali tinggal di rumah tersebut.

 

Tiga Pekerjaan dalam Sehari

Dengan modal dari upah bekerja di kedai kopi, Hendra mencicil sebuah sepeda untuk mengantar koran.

Ia bekerja semakin keras.

Kemudian ia mendapatkan pekerjaan baru di sebuah harian sore.

Hendra juga mulai belajar menjadi wartawan dan belajar melakukan pekerjaan *mounting*, yaitu proses menyusun, menempelkan,

dan menyelaraskan halaman-halaman koran sebelum masuk ke percetakan.

Dalam sehari, kehidupannya terbagi menjadi beberapa pekerjaan.

Rutinitas Hendra

1. Mounting koran

Mulai sekitar pukul 21.00 hingga pukul 01.00.

2. Mengantar koran

Mulai sekitar pukul 03.00 pagi.

Rutenya cukup jauh:

Medan – Binjai – Tandem – Stabat – Tanjung Pura – Gebang – Pangkalan Brandan

Setelah selesai, Hendra biasanya baru sampai rumah sekitar pukul 10.00 atau 11.00 siang.

3. Mounting di harian sore

Mulai sekitar pukul 15.00 hingga pukul 18.00.

Begitulah kehidupan Hendra.

Tidurnya sedikit.

Istirahatnya hampir tidak ada.

Tetapi ia tetap bekerja.

 

Bertemu Ibu di Tengah Perjalanan

Tiga tahun berlalu.

Suatu hari, ketika Hendra sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar koran, ia bertemu dengan ibunya.

Ibu sedang mengayuh sepeda sambil membawa rantangan makanan untuk diantar kepada pelanggan.

Pertemuan tersebut membuat hati Hendra kembali tergerak.

Ia akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal bersama ibunya.

Ibu kemudian menceritakan keadaan keluarga.

Erika sudah pergi ke luar kota untuk bekerja, tetapi belum pernah mengirimkan uang.

Ayah dan ibu juga sudah berpisah.

Sementara Endrew masih kecil dan belum mengetahui banyak hal tentang kehidupan.

Ibu akhirnya menjalankan usaha katering rantangan untuk menyambung hidup.

Hendra merasa sedih.

Ia kemudian berusaha mencari pekerjaan pengganti untuk rute koran luar kota karena waktunya bertabrakan dengan pekerjaan ibunya.

Setelah mendapatkan orang yang menggantikannya, Hendra kembali membantu ibu.

Pagi hari ia membantu mengupas sayuran.

Setelah itu, ia mengantar makanan katering menggunakan sepeda motornya.

 

Rutinitas yang Lebih Berat

Setelah kembali membantu ibunya, jadwal Hendra berubah.

1. Mounting

Pukul 21.00 hingga sekitar pukul 03.00 pagi.

2. Mengantar koran

Sekitar pukul 05.00 hingga pukul 07.00 pagi.

3. Membantu ibu

Sekitar pukul 07.00 atau 08.00 hingga pukul 14.00.

Hendra membantu mengupas sayur dan mengantar makanan katering.

4. Mounting di harian sore

Pukul 15.00 hingga pukul 18.00.

Waktu tidur Hendra semakin sedikit.

Namun ia tetap menjalani semuanya.

Ia tidak banyak bercerita kepada ibunya karena tidak ingin membuat sang ibu khawatir.

 

Tabungan yang Habis untuk Keluarga

Sebelumnya, Hendra memiliki tabungan.

Ia sebenarnya mempunyai rencana menggunakan uang tersebut untuk membeli rumah melalui KPR.

Namun kemudian ia mengetahui bahwa ibunya memiliki banyak utang kepada rentenir.

Utang tersebut digunakan ibu untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membesarkan anak-anak.

Hendra tidak tega melihat ibunya terus dikejar utang.

Ia akhirnya menggunakan tabungannya untuk membantu melunasi utang tersebut.

Tidak semuanya bisa dibayar sekaligus.

Sebagian harus dicicil.

Hendra berpikir bahwa semakin lama utang kepada rentenir dibiarkan, semakin besar bunga yang harus dibayar.

Akhirnya, impian Hendra memiliki rumah sendiri kembali ditunda.

Tabungannya habis.

Namun ia tidak menyesal.

“Asal Mereka Bahagia, Aku Juga Bahagia”

Hendra menjalani semua pekerjaannya setiap hari.

Ia kurang tidur.

Tubuhnya lelah.

Namun ia tetap merasa senang ketika melihat keluarganya baik-baik saja.

Hingga suatu hari, Erika pulang.

Di tempat kerjanya pernah terjadi bencana alam berupa kebakaran hutan yang membuat banyak orang harus mengungsi.

Setelah kembali ke Medan, Erika mendapatkan pekerjaan dan melanjutkan kuliah.

Namun jadwal kerja membuat Erika sering terlambat masuk kuliah.

Ia kemudian meminta bantuan Hendra untuk menjemput dan mengantarnya ke kampus.

Dalam hati, Hendra sebenarnya berpikir,

“Mau tidur berapa jam lagi aku?”

Tetapi ia memilih diam.

  • Yang penting kakaknya bahagia.
  • Yang penting ibunya bahagia.
  • Yang penting adiknya bahagia.

Bagi Hendra, kebahagiaan keluarganya sudah cukup untuk membuat dirinya merasa bahagia.

Uang hasil kerja Hendra hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, membayar cicilan utang, dan membantu adiknya.

Bahkan ia sering memberikan uang jajan kepada adiknya dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan penghasilan yang ia terima dari pekerjaan di harian sore.

 

Ketika Koran Tidak Lagi Dicetak

Zaman terus berkembang.

Internet semakin maju.

Masyarakat mulai beralih membaca berita melalui media online.

Produksi koran mulai berkurang hingga akhirnya pekerjaan Hendra sebagai pengantar koran tidak lagi dibutuhkan.

Hendra kehilangan pekerjaannya.

Ia mendapatkan pesangon.

Namun uang tersebut tidak digunakan untuk bersenang-senang.

Pesangon itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar sewa rumah.

Begitulah Hendra.

Uang yang datang selalu memiliki tujuan.

Tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Bahkan sejak kecil, Ibu sering membawa pulang roti atau sisa kue dari tempat kerja untuk diberikan kepada anak-anaknya.

Namun di tengah semua pengorbanan itu, Hendra sering mendengar dirinya disebut sebagai anak pembawa sial”.

Kalimat tersebut tentu menyakitkan.

Tetapi Hendra tetap bertahan.

 

Satu per Satu Pergi

Waktu terus berjalan.

Endrew akhirnya mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan besar.

Namun ia harus ditempatkan di luar kota.

Erika juga akhirnya menikah dan mengikuti suaminya.

Rumah yang dahulu dihuni banyak orang kini hanya menyisakan Hendra dan ibunya.

Berdua.

Hendra kemudian mendapatkan pekerjaan baru dengan bantuan kakaknya.

Sementara itu, ibu menghentikan usaha katering karena tubuhnya sudah terlalu lelah.

Ia kemudian berjualan buah-buahan.

 

Ayah Meninggal Dunia

Suatu hari, Hendra dan ibunya mendapatkan kabar bahwa ayah telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Hendra sebenarnya sudah tidak terlalu peduli.

Begitu banyak luka yang ditinggalkan ayah dalam kehidupan mereka.

Namun ibu justru marah kepada Hendra karena Hendra tidak ingin membantu mengurus pemakaman ayah.

Pada akhirnya, Hendra menuruti keinginan ibunya.

Teman-teman dan keluarga mulai berdatangan.

Salah seorang pamannya yang sudah lama tidak bertemu Hendra datang.

Ketika melihat kondisi Hendra, sang paman terkejut.

Ia bertanya,

“Selama ini kamu ke mana saja? Apa saja yang sudah kamu lalui?”

Hendra hanya diam.

Ia tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.

Karena terlalu banyak hal yang telah terjadi.

 

Ketika Semua Pengorbanan Dipertanyakan

Bertahun-tahun Hendra bekerja.

Namun ia tidak memiliki tabungan.

Ibu kemudian memarahinya dan melaporkan masalah tersebut kepada kakaknya.

Pertengkaran besar terjadi malam itu.

Untuk pertama kalinya, Hendra membuka semua yang selama ini ia pendam.

Ia menjelaskan ke mana saja uang hasil kerjanya digunakan.

  • Untuk makan ibu setiap hari.
  • Untuk membayar listrik.
  • Untuk membayar air.
  • Untuk membayar uang sampah.
  • Untuk membayar sewa rumah.

Semuanya ditanggung Hendra.

Tanpa bantuan siapa pun.

Hendra akhirnya berkata,

“Jadi Ibu mau makan apa? Semua berharap dari Hendra. memangnya uang ini turun dari langit?.”

Kemudian Hendra berkata kepada keluarganya,

> “Kalau kalian merasa keberatan mengeluarkan uang untuk sewa rumah, kita bertiga bisa patungan untuk menyewa rumah buat Ibu.”

Namun tidak ada jawaban.

Tidak ada yang membalas.

Hendra hanya terdiam.

Hingga usianya mencapai 37 tahun, masalah tersebut tetap sama.

Kakak dan adiknya tidak banyak membantu biaya sewa rumah.

Banyak kebutuhan keluarga tetap bergantung kepada Hendra.

 

Luka yang Selama Ini Disembunyikan

Suatu malam, ibu meminta Hendra membantu mengangkat barang dagangannya.

Namun ibu melihat tangan Hendra tidak memiliki tenaga seperti dulu.

Tangannya bergetar.

Ibu bertanya,

“Kenapa tanganmu tidak ada tenaga? Kenapa bergetar?”

Tanpa sengaja, Hendra menjawab bahwa hal tersebut disebabkan oleh luka yang pernah dialaminya.

Ibu terkejut.

“Luka apa?”

Hendra awalnya tidak ingin bercerita.

Namun ibu terus bertanya.

Akhirnya Hendra menceritakan semuanya.

Ia menceritakan kejadian ketika ayah dan ibu bertengkar.

Tentang bagaimana ia mengambil pisau untuk membela ibunya.

Tentang bagaimana tangannya terluka ketika ayah berusaha merebut pisau tersebut.

Dan tentang tulang di lengannya yang mengalami pergeseran.

Ibu terdiam dan langsung menangis…

Untuk pertama kalinya, ibu mengetahui bahwa anak yang selama ini dianggap kuat ternyata pernah membawa luka yang begitu berat.

Hendra berusaha menenangkan ibunya.

“Itu sudah berlalu, Bu. Sudah tidak apa-apa sekarang.”

Padahal mungkin, luka itu tidak pernah benar-benar hilang.

Apalagi sepanjang hidup pasti ada yang namanya hujan dan pastinya kedinginan, apakah sakit itu akan kembali!!!

 

Seorang Anak yang Tetap Memilih Berbakti

Sejak malam itu, ibu tidak pernah lagi memaksa Hendra untuk menikah.

Ibu juga tidak lagi terlalu sering meminta uang.

Namun Hendra tetap memberikan uang bulanan kepada ibunya.

Jika ada kebutuhan sehari-hari, ia tetap berusaha membantu.

Hendra sangat menyayangi ibunya.

Bagi Hendra, ibunya tetaplah perempuan yang cantik.

Perempuan yang telah membesarkannya.

Perempuan yang mungkin pernah mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Namun juga perempuan yang tetap ia cintai.

Hendra berusaha menjadi anak yang berbakti.

  • Ia bekerja.
  • Ia membantu.
  • Ia membayar utang.
  • Ia mengurus kebutuhan rumah.
  • Ia membantu kakak dan adiknya ketika mereka membutuhkan.

Namun di balik semua itu, kehidupan Hendra sendiri terasa sangat mengenaskan.

  • Ia miskin.
  • Ia kelelahan.
  • Ia tidak memiliki banyak tabungan.
  • Ia bahkan harus mengorbankan banyak hal yang seharusnya menjadi miliknya sendiri demi keluarganya.

Sementara kakak dan adiknya perlahan memiliki kehidupan masing-masing.

Namun Hendra tidak pernah benar-benar menyalahkan mereka.

Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan satu prinsip:

Selama ibu, kakak, dan adiknya bisa hidup bahagia, ia merasa pengorbanannya tidak sia-sia.

  • Mungkin Hendra bukan anak yang paling pintar.
  • Mungkin ia bukan anak yang paling sukses.
  • Mungkin hidupnya jauh dari kata sempurna.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam dirinya:

Ia selalu berusaha menjadi orang yang berguna bagi keluarganya.

  • Ia pernah kehilangan masa kecil.
  • Kehilangan kesempatan untuk menikmati masa remaja.
  • Kehilangan kesempatan mengejar pendidikan.
  • Kehilangan tabungan.

Bahkan mungkin kehilangan banyak kesempatan untuk membangun kehidupannya sendiri.

Tetapi Hendra tetap berjalan.

  • Dengan tubuh yang lelah.
  • Dengan tangan yang pernah terluka.
  • Dengan hati yang menyimpan begitu banyak cerita.

Dan dengan satu harapan sederhana:

Semoga suatu hari nanti, semua pengorbanannya tidak lagi dianggap sebagai kesia-siaan.

Karena di balik sosok Hendra yang terlihat keras dan sering memberontak, sebenarnya ada seorang anak yang sejak kecil hanya ingin satu hal:

melihat keluarganya baik-baik saja.

By admin

kisah.org hadir dengan menyajikan kumpulan kisah kehidupan, cerita misteri, inspiratif, pengalaman unik, sejarah, budaya, serta berbagai informasi menarik yang layak untuk diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *